Review Fate Apocrypha Episode 24 : Jurus Pamungkas Jeanne - Revinime

Review Fate Apocrypha Episode 24 : Jurus Pamungkas Jeanne

Share:
Jeanne d'Arc atau Ruler tidak berdaya sama sekali ketika berhadapan dengan kata-kata manis yang diucapkan William Shakespeare dan juga mantan seperjuangannya yang dipanggil instan yaitu Gilles de Rais. Di episode ini kita tahu kalau Gilles benar-benar seorang servant, namun tidak dijelaskan secara detail bagaimana dan siapa yang menjadi masternya. Meski begitu kita bisa berspekulasi bahka Shakespeare adalah masternya mesi tidak secara resmi. Dan setelah beberapa episode di dalam inti Cawan Suci Agung, Amakusa Shirou akhirnya berhasil mengaktifkan Heaven's Feel dengan begitu rencana penyelamatan umat manusia akan berjalan. Namun seperti yang diutarakan Amakusa Shirou, penyelamatan manusia yang dia maksud adalah melenyapkan umat manusia karena di matanya manusia bagaikan disiksa oleh penderitaan hidup oleh karena itu dia menginginkan semua jiwa yang berada di setiap raga manusia yang masih hidup untuk dikeluarkan untuk menciptakan suatu dunia tanpa penderita karena baginya semua manusia akhirnya mati juga dan Amakusa Shirou hanya mempercepat proses itu demi tujuan meringankan penderitaan manusia.

Hampir setengah bagian episode 24 ini, kita hanya mendengar kata-kata manis dari Gilles de Rais, William Shakespeare, dan juga Amakusa Shirou yang baru saja keluar dari inti Cawan Suci dengan wujud servant-nya. Namun ketika menyinggung masalah homunculus bernama Sieg, Jeanne langsung sadar kembali dan menentang kata-kata yang dilontarkan kepadanya. Dan sang Main Character yang dibicarakan pun tiba-tiba saja muncul entah bagaimana caranya dia menemukan tempat tersebut. Jeanne pun bangkit dan menolak mentah-mentah harapan Amakusa Shirou, dengan begitu pertarungan antara Jeanne d'Arc vs Amakusa Shirou Tokisada akan dimulai, pertarungan antara sesama Ruler. Gilles yang sebelumnya merayu Jeanne untuk mendukung rencana Amakusa Shirou akhirnya berpihak kepada Jeanne dan sekali lagi dua sejoli ini bertarung bersama, meski begitu Gilles hanya seorang servant biasa yang tidak bisa bertarung layaknya servant lain bahkan dengan bentuknya saat ini dia tidak bisa menggunakan hougou ataupun mana sekalipun.

Di episode ini, kita akhirnya melihat kemampuan sejati dari sang Gadis Suci. Dan Jeanne yang sebelumnya selalu menggenggam bendera Orleans untuk bertarung, kali ini dia menyerahkan bendera tersebut kepada Gilles dan Jeanne memutuskan untuk menggunakan pedangnya untuk pertama kalinya menjadi servant. Itu berarti, Jeanne tidak ragu-ragu lagi melawan Amakusa Shirou bahkan dia tidak segan untuk membunuhnya. Jeanne pun langsung menggunakan senjata pamungkasnya, Hougou milik Jeanne yang bernama La Pucelle. Bagi kalian yang melihat dengan teliti bagaimana cara memengang pedang oleh Jeanne yang salah, dimana dia memegang bagian tajamnya bukan bagian pegangannya. Oleh karena itu, saya tidak menganjurkan kalian untuk meniru adegan ini ya. Hougou miliknya ini membutuhkan pengorbanan nyawanya sendiri dan inilah alasan kuat kenapa dia tidak menggunakan senjata pamungkasnya itu di awal-awal episode. Tetapi, meski sudah mengorbankan nyawanya sendiri dan menggunakan Hougou. Amakusa Shirou berhasil selamat dan Cawan Suci Agung tetap masih utuh. Pengorbanan yang sia-sia bukan.

Ketika Jeanne sekarat dan berada di pangkuan Sieg. Jeanne teringat akan sosok naga dan entah kenapa mungkin ini adalah cerita tragis yang menimpa dirinya sebelum akhirnya dibakar hidup-hidup oleh masyarakat. Seperti yang kita ketahui, wujud servant milik Jeanne berbeda dengan servant lain. Dimana Jeanne meminjam tubuh seorang wanita yang masih hidup bernama Leticia. Sehingga ketika Jeanne gugur, yang tersisa hanya tubuh asli milik Leticia. Meski kita belum tahu apakah beberapa luka yang diterima tubuh itu akan dirasakan juga oleg Leticia atau tidak.

Astolfo pun kembali muncul dan berusaha menolong masternya itu. Astolfo datang bersama mantan master Berseker dengan menunggangi Hippogriff. Namun lagi-lagi sebuah rantai berwarna ungu mengingat Astolfo. Dan dugaan saya benar bahwa Semiramis masih hidup, itu berarti pertempuran Modred vs Semiramis dimenangkan oleh Assassin yang memiliki Kastil Terbang dimana mereka berada itu. Sebelumnya juga saya sudah menduga karena Kastil Terbangnya masih ada dan dengan begitu Semiramis belum menghilang atau gugur.

Seig yang tidak terima dengan kematian Jeanne, akhirnya marah besar kepada Amakusa Shirou dan dia memutuskan untuk bertarung dengannya. Namun karena Sieg sudah menggunakan Mantra Perintah-nya untuk melawan Karna, dia tidak bisa berubah kembali menjadi Saber Siegfried. Namun sebuah keajaiban kembali menimpa sang Main Charater ini. Meski dia bertarung dengan wujud manusia, dia bisa mengimbangi perlawanan Amakusa Shirou. Menurut saya, pertarungan Sieg vs Amakusa Shirou ini merupakan pertarungan yabg  sangat detail grafisnya dibandingkan dengan pertarungan yang sebelum-sebelumnya. Dan tengah-tengah pertarungan kita melihat kilatan hijau yang menyelimuti tubuh Sieg. Jika kalian teliti di episode di mana Modred vs Frankenstein, Frankenstein mengeluarkan seluruh listrik berwarna hijau ke tubuh Sieg. Dan dengan begitu, Frankenstein atau Berserker dari faksi hitam masih hidup di tubuh Sieg. Sangat mengejutkan bukan, dua servant mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk homunculus itu. Sebelum berakhirnya episode ini, Sieg yang terkena tusukan pedang dari Amakusa Shirou melancarkan serangan terakhir yang berupa Hougou miliki Berserker bernama Balsted Tree. Kilatan hijau yang kemudian membentuk sebuah pohon besar kemudian membuat bom bunuh diri.

Dengan begitu episode 24 berakhir hanya di situ, dan menyisakan 1 episode lagi  dan apakah mereka semua selamat dari ledakan tersebut dan apakah yang akan terjadi dengan umat manusia. Kita tunggu di episode terakhir di Minggu depan.

1 komentar: